Cerita Horor Part #3: Tante Judes Baju Merah Efek Siang Mencekam

Cerita Horor Part #3: Tante Judes Baju Merah "Efek Siang Mencekam"

"Waalaikum salam, kenapa de?" Jawab Yadi dengan heran

Memang terasa tidak biasanya jika Warti menelpon saat jam kerja Yadi berlangsung.

Jelas pasti ada hal penting yang sangat urgent jika istrinya menghubungi disaat itu.


Cerita Horor Part #3: "Efek Siang Mencekam"


Percakapan telepon itu memanglah tidak panjang, tapi seperti seorang wanita yang membutuhkan perhatian dan perlindungan dari suaminya. Warti kala itu menceritakan segalanya kepada sang suami.

Kala itu Yadi juga sedikit tidak percaya jika siang bolong begitu ada campur tangan makhluk tak kasat mata. 


Yadi hanya bisa memberikan sedikit saran dan nasihat, jika memang seperti itu, lebih baik kita serahkan saja kepada sang pencipta sekaligus pemiliknya yaitu Allah tuhan kita.

Memang siang hari bukanlah waktu yang lumrah untuk munculnya makhluk seperti itu. Namun seperti yang sudah kita tahu jika mereka juga adalah sama seperti kita, sama-sama ciptaan Allah dan sama pula punya kehiudpan masing-masing dengan dimensi dunia yang berbeda.


Yang membedakan adalah dari keimanannya terhadap Sang Maha Kuasa. Jika pun memang ia bersikap jahil dan ingin mencelakai, mungkin golongan tersebut merupakan termasuk dari golongan jin yang kafir dan Jahil.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan de ?" kata Yadi

"nggak mas, aku nggak apa-apa" jawab Warti


"Ya sudah, alhamdulillah kalau begitu, perbanyak berdoa dan baca Al-Quran yah, terus jangan bengong.  kalau ada apa-apa segera kabari aku lagi ya..." Pesan Yadi kepada Warti

"Iya mas, cepet pulang yah mas" jawab warti sembari mengakhiri percakapannya di telepon itu.


#Efek Samping Siang Mencekam

Siang berlalu begitu cepat, dan siang itu di kontrakan sudah tidak ada yang aneh-aneh lagi.

Warti bercerita kepada saya, bahwa kejanggalan lain mulai muncul kemabali setelah dirinya secara sengaja mengucapkan sebuah kalimat obrolan. Sebenarnya sesaat setelahnya sih gak ada apa-apa, dan sepeti ini kurang lebih warti bilang;


"mohon maaf, bukan bermaksud menggurui atau pun mengusir, saya tahu kamu ada, saya tahu kamu pasti penunggu lama sebelum saya ada. Tapi tolong jangan ganggu kami, kita kan punya alam masing-masing" Gumam warti sambil membereskan pekerjaan di dapurnya.


Siang bergulir habis, dan hari mulai sore. Sebentar lagi Yadi pulang, Warti melanjutkan aktifitasnya di dapur, hari itu ada niatan memasak bahan yang telah dibelinya pagi tadi di warung sayur.

Warung sayur itu terletak 100 meter dari kontrakan, warung sayur itu termasuk warung terlengkap menurut warti. Sebab hampir semua kebutuhan dapur untuk memasak dijual disana.


Namun...., tiba-tiba saja warti merasa seperti gak enak badan...

"loh kenapa ini yah, ko kayak ada yang aneh sama perutku, loh ko mual yah?" tanya warti dalam hati


sambil melanjutkan proses memasak yang hampir selesai warti masih terus merasakan mual yang tak terkira. Badannya sedikit anget, bahkan saking merasa mualnya Warti muntah-muntah saat di kamar mandi.


Semua makanan yang masuk hilang sudah dikuras keluar kembali, ditambah pusing kepala dan suhu tubuh warti yang agak demam. Saat sedang merasakan sakitnya tiba-tiba terdengar suara motor Yadi datang diluaran kontrakan.


"Tok, tok, tok ! Assalamualaikum..." salam Yadi sambil mengetok pintu


"Alhamdulillah Mas yadi udah pulang, Waalaikum salam..." Jawab Warti sambil membukakan pintu untuk suaminya


Yadi yang kala itu baru pulang merasa kaget terheran-heran melihat istrinya yang terlihat sedikit pucat. Raut wajahnya memang terlihat agak lesu. Mungkin itu akibat dari kekurangan cairan, efek samping dari muntah-muntah tadi.


"kamu kenapa dek? Tanya Yadi dengan terheran

"aku gak enak badan mas" jawab warti dengan suara pelan


"kamu sakit apa?, apa yang kamu rasain. tadi siang kayaknya seger pas telepon aku" tanya kembali yadi

"gak tau mas, tadi pas mau masak tiba-tiba gak enak badan, perutku mual sampe muntah-muntah. Mungkin magh ku kumat kali ya mas" kata warti


"hmmm..., kamu makan baso pedes lagi yaaa?" tanya Yadi sambil becandai

"nggak mas, tadi siang aku gak makan baso apalagi pedes-pedesan, malahan aku gak makan. Tadi cuman ngemil ajah. Oh yah yank, apa ini gara-gara tadi aku ngomongin kejadian siang tadi ya mas. Soalnya kerasanya pas tadi setelah aku ke dapur" jawab warti


"apa iya...? klo pun begitu, ya jangan begitu juga donk. Emang kita ngapain ampe digangguin gitu" saut Yadi dengan agak jengkel


"iya sih mas, udah kita berpikir yang baik-baik ajah lah" tawab Warti dengan sedikit menenangkan suaminya.

"ya udah dek, nanti kita berobat ke klinik yang deket sini abis magrib, aku mau mandi dulu yah, kamu minum obat magh yang di kulkas itu dulu aja biar enakan makannya" kata Yadi sembari mengambil handuk yang tergantung di tembok.


#Sambut Malam Mencekam

Gema suara azdan terdengar jelas diluaran. Lagi, Pak Kasman kembali mengumandangkan seruan untuk kembali beribadah. Yadi yang telah selesai membereskan ritual sorenya bergegas menuju musolah yang tidak jauh dari kontrakannya itu.

Selepas sembahyang sholat magrib Yadi mengajak Warti untuk melanjutkan niatnya pergi ke klinik terdekat. Soalnya warti masih belum mendingan, badannya pun agak panas sekarang, perutnya tak kunjung reda dari mual. Semua makanan yang masuk selalu ditolak masuk ke dalam perut, sampai-sampai cairan hijau isi perut pun keluar habis tak tersisa. Bisa dibayangkan memang jika sakit seperti itu sangatlah membaut lelah dan lemas tubuhnya.


"Yuk dek, kita berangkat, kamu masih bisa jalan kan yank?" Ajak Yadi sambil dengan lembut

"insyaallah bisa Mas, yuk kita berangkat" jawab Warti yang sedah lesu.


Sore itu keduanya pergi ke klinik, perjalanannya hanya 5 menit dari kontrakan. 

"nggak jauh, deket banget malah, deket pangkalan ojek di pinggir jalan utama kecamatan, palingan lima menit kalau naik motor."

"sesampainya disana, saya langsung mendaftarkan istri saya ke bagian pendaftaran, kebetulan gak terlalu ramai. dan prosesnya juga gak ribet. Maklum lah kita pakai jalur pribadi, hehee" cerita yadi ke saya sambil sedikit melucu.


Tak lama kemudian Warti dapat giliran dipanggil oleh dokter, dan dokter mengecek kondisi keadaannya yang sedang lemah. Demamnya tak kunjung hilang, masih terasa panasnya ketika Yadi menggenggam tangan Warti.


Setelah selesai pemeriksaan, dokter langsung memberikan resep obat untuk dibawa ke bagian pengambilan obat.

"nggak apa-apa, ini paling kayak masuk angin. ditambah ibu punya riwayat penyakit magh"

"Ini saya kasih resep obatnya, nanti tinggal diambil di bagian loket obat" Jelas dokter, begitulah keterangan dari dokter saat memeriksa warti.


Sebenarnya Yadi sedikit memikirkan sesuatu, dia punya filling aneh tentang hal yang menimpa warti. Yadi sempat menantang saat akan ambil wudhu di kamar mandi. Sama halnya seperti Warti yang seolah menasihati, bahwa jangan saling mengganggu kalau berani ganggu jangan salahkan kalau tersakiti. Begitulah kurang lebih yang yadi katakan.


Obat masih ditunggu, waktu itu Keduanya masih menunggu di korsi almunium tempat tunggu pasien lain. Ruangannya agak sedikit dingin, maklum ada AC-nya. 

Tak lama bagian loket obat memanggil Yadi dan istrinya, petugas menjelaskan tentang aturan minum dari obatnya. Keduanya berlanjut bergegas menuju pulang, tapi....


Glegerrr.......!!! kilauan kilat lewat melejit dengan diiringi bunyi gledek yang khas dan menakutkan. dan tiba-tiba...


Werrrrr.....!!! hujan deras turun secara tiba-tiba.


Rupanya dari tadi angin memang agak kencang, langit diluar agak menggelap pekat sekalipun malam telah datang. Memang saat tadi berangkat pun Yadi sudah berifrasat bahwa akan turun hujan. 


#Ini Bukan Sakit Biasa

Untuk meredakan gejala sakit yang dirasakan, Yadi mengajak istrinya untuk meminum obat saat masih diklinik saja. Sembari menunggu hujan yang deras kembali reda.


"Dek, minum obatnya disini saja, sambil nunggu hujan, kayaknya agak lama ini. Kamu juga udah makan kan tadi" ajak Yadi

"Iya yank" jawab Warti yang kala itu sambil rebahan dipangkuan suaminya.


"nih minumnya, alhamdulillah ada air anget disini" kata yadi

"makasih yank" saut warti sambil menerima air minum di gelas aqua kecil.


"Dah, moga aja langsung tokcer yah, tadinya waras balik waras, jangan lama-lama sakitnya" ucap yadi sambil menghibur istrinya

"hehee, iya yank aamiin...., lagian siapa juga yang mau sakit-sakitan terus" jawab Warti dengan sedikit manja


Selah 30 menit kemudian hujan terlihat reda, hanya bersisa tetesan halus gerimis yang masih turun, karena jarak mereka yang gak jauh dari tempat tinggal akhirnya mereka memutuskan untuk langsung pulang ke kontrakan.

Tapi...


"yank, yank, yank... berenti dulu, aku pengen muntah" ucap Warti dengan terburu sambil menepuk punggung Yadi

dan Motor pun berhenti, kemudian...


"Buarr.....!!! Buarrr.....!!! "


Keluar semua, bersamaan obat yang tadi baru selesai dikonsumsi.


"Gimana dek, udahan belum, jangan terlalu dalam nariknya, pelan-pelan aja" ucap yadi sambil memijit leher warti.


Saat itu posisi baru setengah jalan pulan, posisinya dipinggir jalan yang ada selokannya. Lalu lalang sedang ramai-ramainya. Wajar memang, hujan baru saja reda, sehingga banyak pengendara lain melanjtukan perjalanannya.


"udah mas, yuk kita lanjut pulang" bilang warti dengan wajah lesu.


Tak lama, sampailah Yadi dan Warti dikontrakannya. Warti yang lesu langsung beristirahat, badannya merebah karena merasa lemas. 


"makan lagi yah, entar kita minumin obatnya lagi, tadi kan keluar semua" ajak Yadi sambil memberikan air hangat kepada Warti.


"entar dulu deh mas, aku masih lemes, jadi masih agak malas" jawab warti

"ya udah, tapi entar makan yah, walaupun sedikit yang penting keisi dulu perutnya sama makanan" ucap Yadi


Suasana hening sejenak, sambil mengelus-ngelus rambut istrinya Yadi terucap sesuatu. 


"Jadi pas lagi istirahat kelelahan karena muntah-muntah lagi, Yadi cerita ke aku, katanya dia ngerasa ini bukan sakit biasa. Yadi menjelaskan namanya obat magh pasti meredakan iritasi di lambung penderitanya. Dan kalau udah minum pasti gak mual dan bisa makan lagi...


...Yadi merasakan hal yang mengganjal dari saat mau sholat magrib, bulu kuduknya merinding saat di dapur" cerita warti.


"Emang sedikit banyak saya tahu rasanya, kalau hal normal-normal aja sama yang abnormal, gini-gini kan saya juga pernah belajar ilmu kebatinan sama ki kusuko, hehehee" sambut Yadi sambil becandaiin


Suasana share itu pecah dengan tawa, tapi sayang hari sudah mulai larut. Saya memutuskan untuk pulang dulu, kebetulan ada urusan lain yang belum kelar.


_bersambung_


---- nanti lanjut part#4 -----

Buat yang ketinggalan bisa baca dulu cerita sebelumnya dimari:

Part#1

Part#2

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan baik dan sopan. Komentar anda dapat membangun blog ini lebih informatif dan kreatif. Dilarang meninggalkan komentar yang berbau spam (bersifat pronografi, judi, link aktif dan promosi produk)

Previous Post Next Post